Tanpa kayuh biduk ku terombang ambing
hingga ketengah jauh alun menggulung
sepanjang jalan arah tujuanku kuhentikan perahuku di tengah samudera
menghadirkan ingauan-ingauan kecil yang memabukkan
warna warni menggoda hati
namun di sekitarnya bagaikan hitam diselubungi
pada ujung malam ingin kutikam selembar rasa
hingga sinar rembulan tak lagi indah di teras hati
taburan bintang yang sinis menatap ku
dingin menjajah sendi diatas setumpuk jerami gigil
kali ini terasa kaku
tak mampu lagi ku ukir sebaris nama bertahta
atas kejujuran tikam padam nyala pelita
ku terpaku selayak arca yang menorah luka
menetes airmataku tak mampu ku bendung
kubingkai serpihan asa dengan doa
andai malam tadi tak berujung pagi
rebah aku masih memangku butiran airmata
semua yang begitu deras mengalir
ketika asa mulai berkembang
terdiam jiwa ku mencari indra untuk merasa
ketika jiwa inginkan seuntai senyuman yang hadirkan rasa
dalam remang hati ku temui seberkas sinar bersama sayap-sayap yang mekar
walau tak secerah kala hadirnya sang sumber cahaya malam
biarlah lentera ini tiada padam
dalam seruling larut muzik tak bertuan
No comments:
Post a Comment